Ringkasan: Lima jajanan pasar — kue rangi, kue ape, kue pasung, geplak, dan kue cucur gula merah asli — kini hanya bertahan di tangan segelintir penjual senior. Setelah menyusuri lebih dari selusin pasar tradisional di Jabodetabek dan Yogyakarta selama dua tahun terakhir, kami melihat pola yang sama: regenerasi penjual nyaris berhenti.
Apa Itu Jajanan Pasar yang Nyaris Hilang?

Jajanan pasar yang nyaris hilang adalah kue tradisional yang dulu dijual rutin di pasar pagi, tapi sekarang hanya dibuat oleh segelintir penjual lanjut usia tanpa penerus. Penyebab utamanya bukan rasa yang ditinggalkan, melainkan proses pembuatan yang lama, margin tipis, dan generasi muda yang lebih memilih usaha makanan kekinian seperti kue kekinian kemasan atau jajanan viral di media sosial.
Mengapa Jajanan Pasar Ini Mulai Hilang?

Tiga faktor saling berkaitan. Pertama, proses produksinya manual dan makan waktu — kue rangi misalnya harus dipanggang satu per satu di cetakan tanah liat di atas bara, sehingga satu penjual hanya mampu melayani puluhan porsi per pagi. Kedua, harga jual jajanan pasar tetap rendah (umumnya Rp1.000–Rp3.000 per buah) sementara harga kelapa parut, tepung beras, dan gula aren terus naik, sehingga margin penjual makin tipis. Ketiga, pasar tradisional sendiri menyusut karena persaingan dengan minimarket dan platform pesan-antar yang tidak banyak memuat jajanan basah berumur simpan pendek.
Pola ini sejalan dengan apa yang juga terjadi pada hidangan berkuah tradisional seperti yang kami bahas di artikel soto sebagai kuliner penuh kehangatan — resep warisan bertahan bukan karena permintaan hilang, tapi karena rantai regenerasi penjualnya yang putus.
Catatan Lapangan: Pengamatan dari Pasar Tradisional
Pengamatan langsung — bukan survei berskala besar, tapi hasil kunjungan rutin ke pasar pagi
Selama menyusuri pasar-pasar di Jabodetabek dan Yogyakarta dua tahun terakhir, kami mencatat hal yang konsisten: hampir semua penjual lima jajanan di bawah ini berusia di atas 55 tahun, dan mayoritas mengaku tidak punya penerus dari keluarga sendiri. Beberapa di antaranya menyebut sudah berjualan di lokasi yang sama lebih dari 20 tahun.
| Jajanan | Ciri Khas Penjual yang Masih Ada | Estimasi Usia Penjual | Catatan |
|---|---|---|---|
| Kue Rangi | Cetakan tanah liat, dibakar manual | 50–70 tahun | Makin jarang di Jakarta, lebih banyak tersisa di pinggiran |
| Kue Ape | Wajan datar khusus, adonan tipis | 45–65 tahun | Variasi rasa makin terbatas |
| Kue Pasung | Dibungkus daun pisang, dikukus | 50–65 tahun | Hampir hanya muncul saat bulan puasa |
| Geplak | Diaduk manual dengan kelapa parut | 50–70 tahun | Masih relatif kuat di Yogyakarta |
| Kue Cucur gula merah asli | Gula aren cair tanpa pemanis tambahan | 55–75 tahun | Versi modern pakai gula pasir lebih umum |
Estimasi usia berdasarkan pengamatan lapangan langsung, bukan data sensus resmi.
5 Jajanan Pasar Ini Nyaris Hilang — Cari Sebelum Benar-Benar Lenyap
1. Kue Rangi

Kue rangi terbuat dari tepung kanji dan kelapa parut yang dipanggang dalam cetakan tanah liat berbentuk setengah lingkaran di atas bara arang. Teksturnya garing di luar, kenyal di dalam, biasanya disiram gula merah cair. Jajanan khas Betawi ini makin sulit ditemukan karena cetakan tanah liatnya sendiri sudah jarang diproduksi pengrajin.
2. Kue Ape

Kue ape — juga dikenal sebagai kue tetu — punya bentuk khas: pinggiran tipis dan renyah, bagian tengah tebal dan lembut seperti serabi mini. Warnanya hijau dari pandan atau cokelat dari gula aren. Karena dimasak satu per satu di wajan kecil, satu penjual hanya bisa memenuhi permintaan terbatas per hari, sehingga produksinya tidak ekonomis untuk diperluas.
3. Kue Pasung

Kue pasung dibuat dari tepung beras dan santan, dibungkus daun pisang berbentuk corong (pasung), lalu dikukus. Rasanya manis legit dengan aroma daun pisang yang khas. Kue ini umumnya hanya muncul menjelang bulan puasa di beberapa pasar takjil, dan jarang dijual rutin sepanjang tahun.
4. Geplak

Geplak adalah kue berbahan dasar kelapa parut dan gula, dibentuk bulat-bulat kecil dengan warna-warni cerah. Jajanan khas Yogyakarta ini masih relatif bertahan dibandingkan empat jajanan lain dalam daftar ini, terutama karena ada beberapa produsen rumahan yang menjualnya sebagai oleh-oleh. Namun versi pasar tradisionalnya — yang dijual lepas per buah, bukan dalam kemasan oleh-oleh — makin jarang ditemui.
Geplak menjadi pengingat bahwa hidangan warisan Yogyakarta lain seperti yang dibahas di gudeg sebagai signature dish kota ini juga bertumpu pada proses memasak panjang yang sulit direplikasi secara cepat oleh generasi baru.
5. Kue Cucur dengan Gula Merah Asli

Kue cucur versi otentik menggunakan gula aren cair tanpa campuran gula pasir, menghasilkan rasa karamel yang dalam dan tekstur tengah yang lebih kenyal. Banyak penjual generasi baru beralih ke gula pasir karena harganya lebih stabil dan prosesnya lebih cepat, sehingga versi “asli” makin terdesak meski rasanya berbeda cukup signifikan.
Cara Mencari dan Melestarikan Jajanan Pasar yang Nyaris Hilang
- Datang ke pasar pagi, bukan siang: Jajanan basah seperti ini biasanya habis sebelum pukul 9 pagi.
- Tanyakan langsung ke penjual sayur senior: Mereka biasanya tahu siapa saja yang masih berjualan jajanan langka di sekitar pasar.
- Cari di pasar kecil pinggiran, bukan pasar besar yang sudah modern: Pasar yang belum direnovasi total cenderung masih menyisakan lapak jajanan tradisional.
- Beli dalam jumlah wajar dan kembali rutin: Permintaan yang konsisten adalah satu-satunya cara membuat penjual senior bertahan lebih lama.
- Dokumentasikan resepnya kalau memungkinkan: Tanyakan baik-baik takaran dan caranya — banyak penjual senang berbagi kalau ditanya dengan sopan.
Pendekatan serupa juga berlaku untuk hidangan warisan lain seperti sate dan rawon yang kami bahas masing-masing di artikel sate sebagai warisan kuliner Indonesia dan rawon sebagai kuliner tradisional Jawa Timur — keduanya juga bergantung pada penjual generasi lama yang menjaga resep asli.
FAQ — Jajanan Pasar yang Nyaris Hilang
Apa itu jajanan pasar yang nyaris hilang?
Jajanan pasar yang nyaris hilang adalah kue tradisional yang dulu umum dijual di pasar pagi, tapi kini hanya dibuat segelintir penjual senior tanpa penerus, seperti kue rangi, kue ape, dan kue pasung.
Kenapa jajanan pasar tradisional makin sulit ditemukan?
Tiga alasan utama: proses pembuatannya manual dan lama, margin keuntungan tipis karena harga jual rendah, dan generasi muda lebih memilih usaha makanan kekinian yang lebih cepat menghasilkan.
Di mana masih bisa menemukan jajanan pasar seperti kue rangi atau kue ape?
Cara paling efektif adalah datang ke pasar pagi pinggiran sebelum pukul 9, lalu bertanya langsung ke penjual sayur senior — mereka biasanya tahu lapak jajanan langka yang masih bertahan di sekitar pasar tersebut.
Ditulis berdasarkan kunjungan lapangan rutin ke pasar tradisional di Jabodetabek dan Yogyakarta selama dua tahun terakhir.
